Tenggarong – Inewsnet.com: Meski memiliki keterbatasan anggaran, Upacara Pembukaan Erau Adat Kutai 2025 dipastikan tetap menghadirkan pertunjukan spektakuler.
Saat ini, para penari massal yang dibina langsung tim produksi Yayasan Terminal Olah Seni (TOS) tengah melakukan gladi bersih menjelang pelaksanaan acara pada Minggu, 21 September 2025 mendatang.
Pimpinan Produksi sekaligus Ketua Yayasan TOS, Deprianur, menyampaikan bahwa semangat gotong royong dan kreativitas menjadi kunci untuk mengatasi berbagai keterbatasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Walau dengan budget yang terbatas, Alhamdulillah kami bisa memaksimalkan penampilan ini. Hari ini gladi bersih berjalan lancar, dan cuaca juga sangat mendukung. Semoga hari pelaksanaan nanti juga demikian,” ujarnya di Stadion Rondong Demang, Kamis (18/9/2025).
Tahun ini merupakan tahun ketiga TOS dipercaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar untuk mengelola Upacara Pembukaan Erau. Setelah sebelumnya menampilkan tari massal, kali ini TOS menghadirkan drama kolosal.
Drama tersebut mengangkat kisah Sultan Aji Muhammad Idris, pahlawan nasional dari Kutai yang ditetapkan Presiden Joko Widodo pada tahun 2022. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi sejarah perjuangan Sultan Idris dalam pertempuran di Tanah Wajo bersama pasukan Kutai.
“Ini bukan sekedar pertunjukan seni, tapi juga edukasi. Banyak siswa dan masyarakat kita yang belum tahu Sultan Aji Muhammad Idris. Oleh karena itu, momen ini sangat tepat untuk memperkenalkan beliau,” jelas Depri.
Sebanyak 400 peserta dari berbagai sanggar, paguyuban, dan komunitas seni Kukar ikut terlibat. Mereka terpilih melalui proses seleksi ketat.
“Semua yang tampil adalah anak-anak terbaik Kukar. Kami menggabungkan banyak unsur seni—tari, musik, dan drama—untuk menggiring alur cerita,” tambahnya.
Dengan persiapan kurang dari 30 kali pertemuan, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal waktu, tetapi juga anggaran yang minim. Padahal, untuk acara sebesar ini idealnya membutuhkan persiapan hingga enam bulan.
“Kami kerja ekstra keras, apalagi kegiatan massal seperti ini seharusnya disiapkan jauh hari. Tapi berkat kerja keras tim, dukungan semua pihak, dan semangat teman-teman produksi, semua bisa teratasi,” tegas Depri.
Apresiasi juga datang dari Kepala Disdikbud Kukar, Tauhid Aprilian Noor, yang hadir dalam gladi bersih.
“Ternyata dengan budget yang minim pun bisa menghasilkan tontonan maksimal. Ini bukti semangat tim kami yang luar biasa,” ujarnya.
Jika dua tahun terakhir TOS mengangkat tema sejarah, tahun ini penekanan diberikan pada upaya membawa seni budaya Kutai ke tingkat yang lebih tinggi.
“Kalau tahun lalu fokusnya sejarah, tahun ini kami ingin seni budaya Kutai benar-benar bisa naik kelas,” tandas Depri.










