iNewsnet.com, Sendawar – Di balik aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang marak di Kutai Barat, tersimpan kisah pilu para pekerja lokal. Bagi sebagian warga yang tak memiliki keahlian khusus, bekerja di PETI dianggap lebih mudah ketimbang masuk perusahaan resmi yang menuntut kualifikasi tinggi. Namun, kenyataan justru berbalik: harapan mereka untuk bertahan hidup melalui tambang ilegal itu berakhir dengan kekecewaan mendalam.
Puluhan pekerja di Kampung Linggang Tutung mengaku hasil kerja keras mereka tidak pernah dibayar oleh bos tambang emas ilegal bernama Anton Saman Taai, atau akrab disebut Anton. Pria ini dikenal mengendalikan sedikitnya empat unit ekskavator yang beroperasi di kawasan tersebut.
“Saya minta Pak Anton bayar gaji kami. Itu satu-satunya harapan untuk menghidupi keluarga,” ungkap Padri, salah satu pekerja dengan nada getir, Senin (18/8/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keluhan serupa juga disampaikan pekerja lainnya. Mereka mengaku sudah berbulan-bulan menunggu pembayaran yang tak kunjung datang. Bahkan pemilik lahan pun ikut dirugikan.
“Lahan saya ditambang Anton, tapi tidak dibayar. Kerugian saya diperkirakan mencapai Rp150 juta,” tegas Rustam alias Batang.
Anton diduga kerap beralasan hasil tambang “zonk” alias nihil emas untuk menghindari kewajiban membayar upah maupun fee lahan. Ironisnya, meski selalu mengaku tidak ada hasil, Anton tetap melanjutkan penambangan di lokasi yang sama. Warga menilai alasan itu hanyalah modus untuk mengelabui pekerja dan pemilik lahan.
Pernyataan “zonk” tersebut pun terbantahkan oleh pengakuan pekerja lain yang mengetahui langsung hasil tambang Anton. “Dalam sehari semalam, hasil tambang bisa mencapai 60 hingga 100 gram emas. Saya tahu persis karena ikut bekerja. Bahkan Anton bisa membeli beberapa unit mobil dari hasil emas itu. Jadi mustahil kalau dibilang zonk, hanya saja hasil penjualan emas tidak pernah transparan kepada kami,” ujar salah satu pekerja yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Lebih mencengangkan, Anton juga disebut kerap menakut-nakuti warga yang menagih hak mereka. Ia beberapa kali mengklaim memiliki “teman Intel” atau “bintang” yang membekingi aktivitas ilegalnya. Hal itu menimbulkan keresahan, karena jika benar ada aparat di belakangnya, para pekerja merasa tak berdaya menuntut hak mereka.
“Dia selalu bilang ada aparat yang membackingi. Kami jadi takut menuntut lebih jauh,” ucap seorang pekerja.
Masyarakat kini mendesak Kapolres Kutai Barat untuk bertindak tegas dengan melakukan razia besar-besaran di wilayah Tutung dan Kelian Dalam. Mereka berharap aparat benar-benar menunjukkan keberpihakan kepada rakyat, bukan melindungi mafia tambang ilegal yang merugikan warga dan merusak lingkungan.
“Kami menunggu keberanian penegak hukum. Jangan biarkan nama institusi Polri tercoreng gara-gara ulah oknum yang bermain di belakang tambang emas ilegal,” tegas Rustam.
Penulis: Farhan
Penyunting: Bagas Prasetyo










